Tak Hanya di Indonesia, Erdogan Dicintai orang-orang Arab, Kenapa?

Tak Hanya di Indonesia, Erdogan Dicintai orang-orang Arab, Kenapa?

SHARE
Turkish President Recep Tayyip Erdogan leaves after a press conference at the Presidential Complex in Ankara, on April 18, 2018. President Recep Tayyip Erdogan on April 18, 2018 called snap elections in Turkey for June 24, bringing the polls forward by over a year-and-a-half after a call from his main nationalist ally. Both presidential and parliamentary elections will be held on the same day. They had originally been scheduled for November 3, 2019. / AFP PHOTO / ADEM ALTAN (Photo credit should read ADEM ALTAN/AFP/Getty Images)

NewsBisnis.com – RECEP Tayyip Erdogan, Presiden Turki, sangat populer di dunia Arab baik dari sebelah barat hingga ke timur. Popularitasnya mungkin melebihi dari yang ada di Turki sendiri.

Orang-orang Arab melihat Erdogan tak hanya sebagai Presiden Turki, tapi lebih dari itu ia diposisikan sebagai pemimpin umat.

Orang-orang Arab menyebarkan berita dan cerita tentang Erdogan seolah-olah mereka menceritakan kisah-kisah pahlawan besar Muslim pada masa keemasannya, seperti Umar Bin Abd Al-Aziz, Salah Al-Din atau Saif Ad-Din Qutuz.

Erdogan diterima oleh mayoritas masyarakat Arab, hal yang tidak pernah diraih oleh pemimpin Arab atau Muslim dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Beberapa bahkan menyebut Erdogan sebagai Khalifah Utsmani atau penerus Sultan Abdul Hamid II, yang memerintah Kekaisaran Ottoman dari 1876 sampai ia meninggal pada 1918.

Hubungan logis antara Erdogan dan Sultan Abdul Hamid yang ada di benak mayoritas orang Arab memiliki asal-usul historis yang panjang, tentunya dalam hal kebijakan yang diadopsi oleh Ottoman untuk memperkuat hubungan antara Muslim.

“Kita harus memperkuat ikatan dengan umat Islam lainnya di mana pun,” kata Sultan abdul Hamid, “dan kita harus menjadi lebih dekat, karena tidak ada harapan di masa depan tanpa persatuan.” Ini adalah kebijakan sama yang dilakukan oleh Erdogan pada saat ini.

Sejumlah faktor-faktor tertentu membuat Presiden Erdogan begitu populer di dunia Arab. Sebagai permulaan, sejak Erdogan dan partainya berkuasa pada tahun 2002, ekonomi Turki telah meningkat.

Selama periode antara 2002 dan 2011, pertumbuhan ekonomi rata-rata di negara itu rata-rata mencapai 5,2 persen. Ini telah meningkat selama 6 tahun terakhir menjadi 6,7 persen, yang telah memungkinkan Turki untuk bergabung dengan G20. 17 tahun dengan Erdogan di pucuk pimpinan, Turki telah menempati peringkat ke-17 di dunia dalam hal ukuran ekonominya, yang secara alami tercermin pada kesejahteraan warganya dan kehidupan sehari-hari mereka.

Erdogan dan partainya, untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki modern, mengakhiri kekuasaan militer dan dominasi para jenderal. Hal ini mengurangi tingkat korupsi di negara tersebut. Banyak negara Arab menderita karena dominasi militer serupa atas pemerintah mereka, di mana bahkan seorang perwira berpangkat rendah di badan-badan intelijen atau tentara mampu mencabut keputusan pemerintah atau parlemen untuk keuntungan pribadinya.

Asal-usul Erdogan yang memprihatinkan

Presiden Turki yang satu ini berasal dari keluarga miskin yang tinggal di pedesaan, dan latar belakang ini menarik bagi sebagian besar orang Arab. Keluarga pindah ke Istanbul untuk mencari kehidupan yang layak.

Sebagai seorang anak, Erdogan dipaksa untuk bekerja sebagai penjual keliling di gang-gang miskin di Istanbul. Ia menjual semangka dan roti Turki yang disebut “Simit”, sehingga dapat membantu ayahnya dan keluarganya, dan memiliki martabat dalam hidup.

Namun, orang-orang Arab tidak pernah mengenal seorang presiden, baik sebelum maupun sesudah revolusi, yang tidak tidur di atas sutra dan membuat rombongan dan teman-teman mereka yang korup selalu siap untuk mengintimidasi orang-orang.

Yang penting, Erdogan telah membuka pintu untuk 3,4 juta pengungsi Suriah, serta puluhan ribu orang Mesir, Libya, Yaman dan orang Arab lainnya di mana negara-negara lainnya menutup pintu.

Turki saat ini menampung 72.000 mahasiswa asing, sebagian besar orang Arab, dan kebanyakan dari mereka belajar dengan beasiswa dari pemerintah Turki. Sedangkan negara-negara Arab tidak memberikan anak-anak mereka dengan pendidikan gratis.

Selama satu tahun terakhir saja, 83.000 pelajar Arab telah mengajukan permohonan beasiswa untuk belajar di universitas-universitas Turki, sementara itu sejauh ini belum terdengar tentang negara Arab mana pun yang menarik begitu banyak siswa dengan menawarkan beasiswa atau cara lain.

Selain itu, sebagian besar warga negara Arab dapat memasuki Turki tanpa batasan atau visa. Ini sangat berbeda dengan situasi warga Arab yang mencoba pindah dari satu negara Arab ke negara lain yang menghadapi persyaratan visa dan hambatan lain di perbatasan.

Turki yang demokratis di bawah Erdogan, bahkan memberikan kesempatan kepada seorang pria yang dipenjarakan dan dituduh melakukan tindakan terorisme dan kekerasan yakni Selahattin Demirtaş. Selahattin dapat mencalonkan diri sebagai kandidat dalam pemilihan presiden baru-baru ini.

Sementara di dunia Arab, yang terjadi sebaliknya, Dengan presiden digulingkan, ditangkap, dipenjarakan, dan dihilangkan secara paksa.

Di Turki, seorang tahanan dapat menjadi presiden, sementara di “negara demokrasi” Arab, presiden dapat menjadi tahanan, dan semua kotak suara dapat dibuang, seolah-olah pemilihan tidak pernah benar-benar terjadi.

Itulah mengapa mereka juga mengikuti pemilihan presiden dan parlemen bulan lalu di sana, seolah-olah posisi mereka begitu penting.

Mereka tidak hanya memahami bahwa pemilihan itu adalah satu-satunya pemilu yang adil di kawasan tersebut, tetapi mereka juga percaya bahwa diri mereka sendiri menjadi faktor penting dalam menentukan nasib daerah itu sendiri. Presiden Recep Tayyip Erdogan memberikan dampak signifikan terkait hal itu. []

Loading...